Ketika Diklatsar Harus Dihentikan: Kisah Empat Hari Mata Alam di Bukit Tunggul

Oleh: Wandi Wahyudi
Anggota Mata Alam Unfari Bandung

Wartapalaindonesia.com, FEATURE — Peristiwa Diklatsar Mata Alam ke-XII dilaksanakan dengan jumlah peserta yang terbatas, yakni dua orang peserta perempuan atas nama Tatiya dan Nining atau Amel. Kami kembali melaksanakan pendidikan di kawasan Taman Wisata Pendidikan Bukit Tunggul, Kab. Bandung.

Meski jumlah peserta sedikit, kegiatan ini melibatkan sumber daya yang cukup besar, terdiri dari 15 orang panitia,  2 tenaga bantuan medis dari Petak Alam Universitas Bhakti Kencana Bandung, serta 3 tenaga bantuan operasional Base Camp dari Raimuna STIKOM.

Kegiatan ini dirancang berlangsung selama enam hari, namun pada pelaksanaannya hanya dapat diselesaikan dalam empat hari akibat terjadinya insiden non-teknis dan non-medis yang mengharuskan seluruh rangkaian kegiatan di Bukit Tunggul dihentikan lebih awal.

Tim pendahulu diberangkatkan lebih dahulu pada Selasa, 03 Februari 2026, dengan tujuan melakukan pengecekan jalur, kondisi base camp, serta kesiapan lokasi kegiatan.

Satu hari kemudian, Rabu, tim pendamping berangkat bersama peserta menuju titik awal kegiatan. Peserta didrop di kawasan yang dikenal dengan sebutan Kue Balok, sebuah lapang terbuka yang juga menjadi lokasi warung legendaris penjual kue balok.

Dari titik ini, puncak Bukit Tunggul sudah terlihat jelas, dengan kondisi puncakan tertutup awan lentikular. Kondisi tersebut menjadi perhatian panitia karena sering berkaitan dengan perubahan cuaca yang cepat dan tidak menentu.

Dalam pelaksanaan kegiatan, panitia menghadapi dinamika psikologis peserta. Salah satu peserta, yang kemudian dijuluki “Ganis” (Gadis Menangis) oleh tim pendamping, menunjukkan respons emosional yang tinggi. Peserta tersebut menangis hampir setiap hari, terutama saat menerima tekanan mental sebagai bagian dari proses pendidikan dasar.

Puncaknya, di hari ke-3, saat peserta melaksanakan kegiatan survival, salah satu peserta, yaitu Ganis, mengalami insiden non-teknis, bahkan non- medis. Kondisi ini membuat saya harus melakukan pendampingan intensif, termasuk berjaga selama dua hari tanpa tidur, guna memastikan keselamatan Ganis.

Sementara itu, peserta lainnya yang dijuluki “Cebat” (Cewek Lambat) relatif berada dalam kondisi yang lebih stabil. Meski mengalami keluhan fisik berupa nyeri kaki dan pusing, peserta tersebut masih dapat mengikuti rangkaian kegiatan dengan pengawasan dan penyesuaian ritme.

Pada hari keempat, panitia melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi lapangan dan peserta. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, diputuskan bahwa kegiatan tidak dapat dilanjutkan hingga hari keenam sebagaimana rencana awal.

Keputusan ini diambil bukan karena adanya kecelakaan teknis atau kondisi medis darurat, melainkan karena faktor non-teknis dan non-medis yang dinilai berpotensi menimbulkan risiko lebih besar apabila kegiatan tetap dipaksakan.

Bagi kami, tanggung jawab terbesar bukan kepada kampus, atau internal Mata Alam, melainkan kepada orang tua peserta. Mereka berangkat dengan restu, dalam keadaan sehat, dan kami harus berusaha agar mereka mendapatkan pembelajaran yang baik selama berkegiatan, dan yang terpenting mereka dapat pulang kembali ke pelukan orang tuanya dengan selamat dan sehat.

Seluruh peserta dan panitia kemudian diturunkan dari Bukit Tunggul. Kami menginap lagi satu malam di Base Camp Kang Dikdik Elnino. Beberapa senior kami datang dan ikut menginap. Esoknya, kami turun dari Bukit Tunggul. Tapi sayang, Ganis kembali harus berjuang melawan “sakitnya”.

Saya, Bang Alfian, Bang Isan, dan Teh Adip mendampingi Ganis sampai semua upaya berakhir. Kami tidak ikut rombongan panitia yang lain. Mereka langsung ke kampus, sedangkan  kami harus ke tempat lain terlebih dahulu.

Alhamdulillah, semuanya dapat dijalani dan dilewati. Ganis dapat tersenyum kembali. Meskipun sangat kelelahan.

Penghentian kegiatan lebih awal meninggalkan dampak emosional yang cukup kuat bagi seluruh pihak yang terlibat. Panitia, pendamping, dan peserta sama-sama merasakan kelelahan, dan tekanan psikologis yang terakumulasi selama kegiatan berlangsung.

Meski kegiatan tidak berjalan sesuai rencana, seluruh pihak menyadari bahwa keputusan tersebut diambil demi keselamatan dan kondisi psikologis peserta.

Diklatsar Mata Alam XII memang tidak diselesaikan dalam durasi ideal. Namun kegiatan ini meninggalkan pelajaran penting tentang tanggung jawab, batas kemampuan peserta, serta pentingnya evaluasi dan pengambilan keputusan di lapangan.

Empat hari pelaksanaan tersebut menjadi catatan bahwa keberhasilan kegiatan tidak selalu diukur dari lamanya waktu, melainkan dari keselamatan, kepedulian, dan proses pembelajaran yang dialami bersama.

Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.