Wartapalaindonesia.com, BANYUWANGI – Siapa yang tak kenal surga dunia bernama Indonesia, hingga pujangga mengatakan tongkat dan batu jadi tanaman. Menjadi orang Indonesia tentu kita layak bangga, sudah sejauh mana Anda mengenal Indonesia?
Bukan hanya masyarakat domestik yang semakin cinta memiliki Indonesia, penduduk duniapun terkesima untuk mengenal Indonesia. Bahkan tak sedikit dari mereka berkata ingin menjadi orang Indonesia.
Salah satunya, pria asal Egypt, Ahmed Maher Gad. Uniknya, Ahmed justru terpikat dengan kearifan lokal alam Indonesia beserta budaya aslinya.
Pria kelahiran Kairo, 1 April 1992 ini menjelajah dunia sejak usia 18 tahun. Pengalaman mendaki dia rasakan kala mendaki Everest di ketinggian 5.500 Mdpl, melalui jalur Tajikistan Asia Tengah yang terkenal paling indah.
Seorang penjelajah dan penulis buku ini melanjutkan perjalanan menuju Bali, Indonesia. Ahmed tak pernah menyangka ada dunia se indah ini di Indonesia, tak hanya sampai disitu.
“Aku tak percaya, bahwa di Indonesia alamnya lebih bagus dari yang ada di artikel, dan manusianya lebih ramah serasa punya saudara,” kata Ahmed saat berbincang dengan Wartapala Indonesia di Banyuwangi.
Lebih tercengang lagi kala Ahmed menemukan keramahan penduduk asli Indonesia dan semangat para pemudanya kala berada di Banyuwangi, Jawa Timur. Hingga pria yang tercatat sebagai mahasiswa kedokteran Universitas Ain Shams Cairo ini rela tinggal berbulan-bulan di Banyuwangi.
“Di kampung Temenggungan, Banyuwangi ini aku belajar beladiri, menari, musik tradisional, cinta alam dan keramahan penduduk asli,” bilang Ahmed setelah bernyanyi bersama warga kampung wisata Temenggungan.
Ahmed yang agendanya akan menuju Malaysia dua bulan lalu, memilih tetap tinggal lebih lama di Indonesia khususnya kampung Temenggungan Banyuwangi.
Tak salah sebab kampung Temenggungan yang dulu merupakan desa tertua di Banyuwangi, kini melalui swadaya warganya kembali melanjutkan nilai-nilai kearifan lokal dalam budaya dan lingkungan.
Desa yang menurut Ahmed merupakan salah satu desa paling kaya akan budaya dan kental akan sejarah. Ditambah kreatifitas bakat kearifan lokal yang konon warganya keturunan para Temenggung kerajaan Majapahit, menjadikan layak untuk menjadi icon wisata Banyuwangi di tengah konspirasi kasus Tumpang pitu.
“Aku belajar bagaimana warga di sini bersinergi dengan alam dan menghargai warisan alam dengan tetap melestarikan lingkungan dan budaya,” tutur Ahmad yang mengaku di negaranya tidak menemukan atmosper persahabatan sekental di Indonesia.

“Bersyukur juga aku bertemu Bang Tedjo, dialah pelopor hadirnya kembali kampus Temenggungan yang berhasil menggali emas tersembunyi di kampung kaya bakat ini,” tambah Ahmad.
Bang Tedjo yang bernama asli Bachtiar merupakan anggota IMPALA Universitas Brawijaya yang kini mengabdikan diri mendampingi dan membantu warga lokal untuk menggali potensi di daerahnya. Penyaku nomer 081334495491, siap mengantar Anda mengenal kampung wisata Temenggungan.
Melalui program briliannya membangun desa wisata berbasis masyarakat lokal, suami dari mbak Ulva anggota DIMPA UMM Malang, menjadikan Kelurahan Temenggungan menjadi salah satu destinasi pariwisata dan budaya di Banyuwangi.
“Kampung ini kaya akan budaya, bakat musisi lokal, pusat penari gandrung, pencak silat asli, pusat sejarah asal kata Banyu wangi ada di sini, bahkan kampung ini bisa dikatakan emasnya Banyuwangi,” ujar Bang Tedjo.
Lewat Jaringan Kampung Nusantara (Japung) japungnusantara.org, Bang Tedjo menggelar festival-festival budaya dengan melibatkan potensi kearifan lokal bersama warga kampung Temenggungan.
Tak heran hingga musisi jazz seperti Trie Utami hingga musisi manca negara Yan Kormachev terpikat mengadakan konser bertajuk alam diiringi grup musik asli warga Temenggungan itu.

Bagi Ahmed sendiri, kehadiran Bang Tedjo bukan hanya sebagai inspirator perjalanannya. Lebih dari itu, “Bang Tedjo merupakan ayah yang baik bagiku,” ujar penyaku nomer 087749718036.
“Selanjutnya aku akan menuliskan buku tentang Indonesia versi yang aku lihat, aku dengar, aku rasa, tanpa melebihkan tanpa mengurangi, aku belajar dari kearifan lokal warga Temenggungan, sebab Indonesia itu kaya,” tutup pria yang menuliskan kisah perjalanannya di,
https://www.indiegogo.com/projects/book-writing-journey-to-the-pamir-mountains–2#/
Laporan : A. Phinandhita P.
Editor : Ragil Putri Irmalia
Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)