Sekolah Alam di KHDTK Alas Bromo UNS: Belajar Teknologi Digital dan Rawat Pohon Langka untuk Kelestarian Ekosistem

Oleh: Ita Mirrotul Tsaqila

Wartapalaindonesia.com, FEATURE — Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Alas Bromo milik Universitas Sebelas Maret (UNS) Karanganyar kembali menjadi laboratorium alam hidup.

Kali ini, dua agenda penting digelar: pelaksanaan Sekolah Alam yang berfokus pada literasi teknologi geospasial, dan kegiatan monitoring bibit pohon langka yang merupakan tindak lanjut dari program penanaman sebelumnya.

Kegiatan yang berlangsung di kawasan konservasi tersebut diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, aktivis lingkungan, hingga masyarakat umum.

Mereka diajak untuk tidak hanya mencintai alam, tetapi juga menguasai alat-alat digital modern untuk mempelajari dan mengelolanya.

Sekolah Alam: Melek Teknologi untuk Paham Lingkungan

Ketua Fasilitator Sekolah Alam, menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan bersifat aplikatif dan memanfaatkan teknologi yang mudah diakses.

Materi yang diberikan pun sangat praktis:

1. Praktik GPS dengan Handphone: Peserta belajar menentukan koordinat dan arti koordinat tersebut

2. Praktik Baca Citra Satelit Langsung: Menggunakan aplikasi seperti Google Earth, peserta diajak menganalisis bentuk lahan, tutupan vegetasi, dan identifikasi objek dari citra satelit resolusi tinggi secara real-time.

3. Analisis Tutupan Lahan dan Perubahan Kawasan: Peserta diajarkan membandingkan citra dari tahun berbeda untuk memahami dinamika perubahan hutan, alih fungsi lahan, serta dampaknya.

4. Praktik Bio-engineering Sungai & DAS: Materi ini mengajarkan prinsip-prinsip rekayasa ekologis untuk konservasi daerah aliran sungai (DAS) menggunakan material alami, yang dapat diterapkan untuk mitigasi erosi dan rehabilitasi sungai.

Lanjutkan Perawatan: Monitoring Bibit Penghuni Baru Hutan

Setelah pikiran diasah dengan teknologi, aksi dilanjutkan dengan menyentuh tanah. Agenda kedua adalah monitoring dan perawatan puluhan bibit pohon langka yang menjadi “penghuni baru” KHDTK Alas Bromo, hasil dari program penanaman pada 29 November lalu.

Kegiatan ini menekankan bahwa konservasi adalah proses berkelanjutan. “Menanam itu mudah, merawat yang menjadi tantangan. Program ini percaya bahwa setiap bibit yang ditanam punya cerita yang harus kita awasi hingga besar,” jelas Dr. Rina, peneliti UNS.

Tim secara cermat memeriksa kesehatan setiap bibit, mengamati pertumbuhan tunas, kelembaban tanah, serta melindunginya dari gulma pengganggu. Data kondisi fisik dicatat sebagai bahan evaluasi untuk memastikan tingkat keberhasilan tumbuh (survival rate) tetap tinggi.

Terima Kasih untuk Sang Wadah: KHDTK Alas Bromo UNS

Di balik kesuksesan kegiatan ini, seluruh pihak mengucapkan apresiasi setinggi-tingginya kepada pengelola KHDTK Alas Bromo UNS Karanganyar.

“KHDTK bukan sekadar hutan. Ia adalah ruang kelas tanpa dinding, laboratorium hidup yang lengkap, dan bukti nyata komitmen UNS untuk pendidikan dan lingkungan. Terima kasih atas kepercayaan dan fasilitasnya, sehingga ide-ide kreatif konservasi seperti Sekolah Alam dan program adopsi pohon langka dapat tumbuh subur di sini. Wadah yang luar biasa ini telah mempertemukan kecanggihan teknologi dengan kesederhanaan akar pohon.”

Kolaborasi antara teknologi, pendidikan, dan aksi lapangan ini diharapkan melahirkan generasi konservasionis baru: yang cakap digital, tanggap data, sekaligus rendah hati untuk turun langsung menjaga setiap helai daun dan setiap inci tanah di bumi warisan kita.

Editor || Wandi Wahyudi, WI 200223

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.