Wartapalaindonesia.com, YOGYAKARTA – Mahasiswa Pencinta Alam STIPRAM (MAHAPASTI) telah menyelenggarakan seminar dengan tema “Peran Pariwisata Dalam Mempertahankan Kearifan Lokal dan Mencegah Pergeseran Nilai Budaya” pada tanggal 19 November 2018 di Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta.
Seminar ini digelar dalam rangka memperingati hari jadi MAHAPASTI yang ke-5 dan merupakan penutup dari rangkaian acara Milad MAHAPASTI. Sebanyak 110 orang turut hadir dan terlibat dalam acara ini.
Adapun pembicara dalam acara seminar ini yaitu Bapak Rose Sutikno S.H., M.M selaku Sekretaris Dinas Pariwisata DIY dan Kanjeng Raden Aryo Tejo Bagus Sunaryo S.Sn., M.A selaku budayawan sekaligus Dosen STIPRAM.
Seminar dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars STIPRAM kemudian dilakukan pemotongan tumpeng sebagai simbolis memperingati hari jadi MAHAPASTI yang ke 5.
“Tujuan kami mengangkat tema ini yaitu karena kurangnya kepedulian dari masyarakat terhadap kearifan lokal dan budaya yang ada di lingkungan masyarakat terutama daerah-daerah wisata. Oleh karena itu kami berharap dengan adanya seminar ini dapat memperoleh solusi dari permasalahan tersebut,” ungkap Hesti selaku ketua panitia.
Seminar ini diawali dengan pemaparan oleh Bapak Rose Sutikno sebagai pembicara pertama yang memaparkan bahwa kedudukan industri Pariwisata saat ini menempati peringkat ke-2 setelah industri minyak dan gas bumi. Dengan adanya visi pemerintah menargetkan 20 juta wisatawan mancanegara untuk mengunjungi Indonesia pada tahun 2020, Provinsi DIY dan Jawa Tengah yang mendapatkan jatah 2 juta wisatawan mancanegara saat ini gencar melakukan promosi.
Dalam kaitannya dengan tema seminar, pembicara pertama Bapak Rose Sutikno menjelaskan bahwa Indonesia memiliki berbagai macam budaya dari mulai kita lahir hingga meninggal, kita tidak pernah lepas dari budaya, diantaranya dalam budaya jawa mitoni yaitu 7 bulanan saat masih mengandung, brokohan atau lahiran, sepasaran atau 6 hari saat dilahirkan dan menyembelih hewan (aqiqoh), dan tetesan yaitu adat untuk perempuan saat sudah dewasa.
Budaya–budaya yang kita miliki harus tetap dilestarikan agar tidak hilang atau bergeser keberadaannya.Salah satunya kita harus mengenalkan budaya kepada keluarga yang paling dekat dengan kita, dikarenakan pemerintah hanya memfasilitasi sebagian kecil sehingga masyarakat sekitar diharapkan dapat tumbuh dan mengelola sendiri, dari masyarakat untuk masyarakat.
Seperti budayaJawa, kesenian wayang dan ketoprak kebanyakan diselenggarakan dengan adanya inisiatif warga dengan tujuan untuk hiburan sekaligus memperkenalkan kesenian yang dimiliki.
“Selanjutnya, kita mengenalkan ke masyarakat dan warga sekitar, dan yang terakhir menyebarkan melalui media. Jika budaya sudah menjadi kebiasaan, maka jika ada budaya luar yang masuk, kita tidak terpengaruh. Sebenarnya masih banyak budaya di Jawa ini yang perlu kita gali dan bangkitkan lagi,” terangnya.
“Dinas Pariwisata Provinsi DIY sudah melakukan berbagai cara untuk membangkitkan budaya yang ada di jawa, diantaranya dinas pariwisata mengemas budaya tersebut menjadi event. Contohnya sunat masal,nikah masal, ‘bergodo’ di Alun-alun Kidul dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, 1000 Angguk di Kulon Progo, Labuhan, Festival Dolanan Anak yang saat ini sudah hamper punah, dan masih banyak lagi,” tutur Sekretaris Dinas Pariwisata Provinsi DIY selaku pembicara
Setelah pembicara pertama selesai memaparkan semua materinya, dilanjutkan pemaparan kedua oleh Kanjeng Raden Aryo Tejo Bagus Sunaryo mengenai nilai-nilai budaya adiluhung dan kearifan lokal.
Adiluhung yaitu berarti budaya yang beradab. Kearifan lokal, arif berarti bijaksana dalam mengambil semuanya. Setiap insan pariwisata baik para pengundang dan atau penyelenggara seharusnya menyadari secara utuh bahwa diri mereka adalah bagian dari pelaku dan atau pemilik budaya yang dikatakan adiluhung dan arif tersebut sehingga dapat menjelaskan, menambah ilmu pengetahuan, atau bahkan mempengaruhi para tamu yang datang untuk menghargai.
Dengan maksud tersebut pembicara Kanjeng Raden Aryo Tejo Bagus Sunaryo memberikan contoh kasus-kasus pelanggaran nilai budaya oleh wisatawan di beberapa daya tarik wisata salah satunya seperti kelakuan generasi milenial saat ini yang mengutamakan eksistensi di dunia maya dengan foto menginjak dan menaiki stupa Candi Borobudur padahal sudah jelas ada peringatan dilarang memanjat stupa.
“Kita itu menjual sumber daya manusia bukan alam karena alam adalah ibu pertiwi kita. Jangan pernah menjadikan parwisata sebagai objek tapi jadikanlah pariwisata sebagai subjek. Bila itu mengundang orang untuk mengunjungi tempat kita, kita sendiri harusnya sadar akan pawisata terlebih dahulu,” ucap Kanjeng Raden Aryo Tejo Bagus Sunaryo.
Dalam mempertahankan serta mengembangkan adiluhung dan kearifan lokal perlu diterapkan metode strukturalisme dan hermeneutika. Strukturalisme dapat digunakan untuk mengungkap simbol-simbol yang terdapat dalam kegiatan-kegiatan budaya, seperti pada mitos, benda-benda material simbolik, dan tindakan simbolik. Sedangkan pendekatan hermeneutika diperlukan untuk menafsirkan dan menginterpretasikan kegiatan-kegiatan budaya.
Kanjeng Raden Aryo Tejo Bagus Sunaryo mengambil sampel seni pertunjukan, ritual-ritual yang dilakukan oleh masyarakat se-nusantara dengan berbagai keragamannya senantiasa merupakan sebuah pertunjukan budaya, jadi pertunjukan budaya adalah sebuah peristiwa yang tidak hanya mempertunjukkan sebuah karya seni, tetapi di dalamnya juga terdapat nilai-nilai ritual contohnya kesenian Nini Thowong yang mempunyai nilai budaya lebih yang dapat menjadi aset wisata budaya.
“Saya senang sekali dengan terselenggaranya seminar ini, karena MAHAPASTI pencinta alam yang juga berbasis di pariwisata, dan juga di pariwisata ada budaya nya. Adanya seminar ini bisa membuka wawasan teman-teman yang lain tentang budaya, kalau bukan generasi kita yang peduli, siapa lagi? Jangan sampai kita generasi muda mengangungkan budaya barat tapi lupa dengan budaya sendiri, padahal orang luar negeri sekarang ini banyak mengagumi budaya kita sendiri dan bahkan lebih memahami budaya lokal yang kita miliki,” ungkap Inosensius Tito peserta acara seminar
Peserta yang hadir pun tertarik untuk mengikuti acara seminar ini alasannya karena tertarik dengan tema yang diangkat seperti kata Tabita salah satu peserta seminar menjelaskan dia tertarik mengikuti seminar ini juga agar belajar menjadi insan pariwisata yang kedepannya lebih bijak lagi untuk mengelola industri pariwisata.
Acara seminar “Peran Pariwisata Dalam Mempertahankan Kearifan Lokal dan Mencegah Pergeseran Nilai Budaya” yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Pencinta Alam STIPRAM (MAHAPASTI) ini didukung oleh pihak kampus sendiri Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta dan juga Wartapala Indonesia yang menjadi media partner acara ini.
Instagram : @mahapasti
Kontributor || Kharisma Desthalia & Nurmasita Rakian
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)