WARTAPALA INDONESIA

Perjalanan Budaya di Bumi Wengker Ponorogo

Wartapalaindonesia.com, FEATURE – Tim Ekspedisi Mandhala melangkahkan perjalanannya ke Bumi Wengker. Wengker merupakan nama derah yang dahulunya ada di bawah kekuasaan Majapahit hingga era masuknya Islam di bawah kesultanan Demak.

Saat ini nama Wengker sudah asing bagi kalangan umum, namun bila mendengar Ponorogo pasti semua akan langsung tertuju pada ciri khas daerah tersebut yakni reog. Selain reog di Ponorogo juga banyak menyimpan warisan budaya. Kali ini tim Ekspedisi Mandhala melakukan perjalanan ke Ponorogo pada tanggal 27 sampai 28 Desember 2018.

Perjalanan pertama langsung menuju makam Eyang Bethoro Kathong, beliau adalah utusan Raden Fatah Sultan Demak yang sekaligus putra Brawijaya V, beliau diutus untuk membuka lahan kosong untuk dijadikan pemukiman muslim di Wengker yang saat ini dikenal dengan Ponorogo.

Bisa dikatakan Eyang Bethoro Kathong adalah pendiri Ponorogo, makamnya tak jauh dari SMKN 1 Jenangtan, Ponorogo. Di komplek makam tersebut ada beberapa istri beliau yang juga dimakamkan di situ, selain itu juga banyak sanak famili atau para abdi dalemnya.

Setelah itu melanjutkan perjalanan ke Situs Watu Dukun di Pagerukir, Kec. Sampung, Ponorogo. Cukup singkat informasi yang didapatkan mengenai sejarahnya, namun menurut petugas Perhutani yang beraktifitas di sekitar situ menjelaskan jika banyak warga yang mempercayai bahwa di situ memiliki aura spiritual yang kuat, sehingga banyak warga dan pesilat yang mempercayainya untuk  berkunjung dan melakukan kegiatan ritual.

Monumen Bantarangin adalah tujuan yang ke tiga, monumen tersebut merupakan monumen budaya yang menjadi kesepakatan bersama antar penggiat budaya terutama dari kesenian Reog Ponorogo. Bangunan ini menjadi wisata modern banyak dikunjungi komunitas-komunitas selain seni seperti penggiat sepeda, hewan-hewan tertentu bahkan kelompok motor.

Di hari kedua tim melanjutkan perjalanan ke Candi Nongkodono, lokasinya tepat di halaman SMPN 1 Kauman. Cukup miris melihat bangunan ini karena meski di area sekolah namun kurang mendapatkan perhatian, banyak rerumputan yang tumbuh di candi tersebut.

Situs Sirah Keteng menjadi tujuan selanjutnya, terdapat pahatan kepala (Sirah) dan beberapa bongkahan sisa bangunan. Cagar budaya ini juga dikelola oleh pemerintah Desa setempat bukan dari dinas yang seharusnya menaungi cagar budaya.

Tujuan terakir adalah prasasti Krenak di Kecamatan Sawo, Ponorogo. Cukup sulit mencari lokasinya karena ada di sekitar sawah dan tidak ada petunjuk menuju lokasi prasasti tersebut, informasi yang didapatkan tentanng asal usul atau sejarahnya juga tidak diketahui. Sangat disayangkan.

Kontributor || Alfun Salam

Editor || Nindya Seva Kusmaningsih

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: